BABI KUTIL BAWEAN: ANALISIS PERILAKU BABI DAN FAKTOR AGAMA TERHADAP SIKAP MASYARAKAT
6 Juli 2026
BABI KUTIL BAWEAN: ANALISIS PERILAKU BABI DAN FAKTOR AGAMA TERHADAP SIKAP MASYARAKAT
Oleh: Tim Riset Bawean Tourism
Bawean Tourism - Pulau Bawean selama ini dikenal sebagai rumah bagi berbagai satwa endemik yang tidak ditemukan di tempat lain di dunia. Salah satunya adalah Babi Kutil Bawean (Sus verrucosus blouchi), satwa langka yang menjadi bagian penting dari kekayaan hayati Indonesia. Namun, di balik statusnya sebagai satwa endemik, Babi Kutil Bawean juga menjadi salah satu sumber konflik antara manusia dan satwa liar di Pulau Bawean.
Dalam beberapa tahun terakhir, masyarakat yang tinggal di sekitar kawasan hutan semakin sering mengeluhkan kerusakan lahan pertanian akibat aktivitas babi. Tidak sedikit petani yang mengalami gagal panen, bahkan harus mengeluarkan biaya tambahan hingga jutaan rupiah untuk memasang pagar seng agar tanaman mereka tidak dirusak. Di sisi lain, beberapa kejadian tabrakan antara babi dan pengendara sepeda motor juga menimbulkan kekhawatiran mengenai keselamatan masyarakat.
Melihat kondisi tersebut, Tim Riset Bawean Tourism melakukan penelitian untuk mengetahui faktor apa yang sebenarnya paling memengaruhi sikap masyarakat terhadap Babi Kutil Bawean. Penelitian dilakukan pada Mei 2026 di delapan desa terdampak, yaitu Kumalasa, Peromaan, Balikterus, Gunung Teguh, Pudakit Barat, Pudakit Timur, Lebak, dan Suwari dengan melibatkan 121 responden yang dipilih secara bertahap menggunakan metode multistage sampling.
A. Kerugian yang Benar-Benar Dirasakan Masyarakat
Hasil observasi menunjukkan bahwa konflik tidak hanya berupa keberadaan babi di sekitar permukiman, tetapi telah berdampak langsung terhadap kehidupan ekonomi masyarakat. Di Desa Lebak misalnya, seorang petani yang biasanya memperoleh sekitar 100 sak padi hanya mampu menghasilkan empat sak akibat serangan babi. Di Dusun Padhek hasil panen turun dari sekitar 40 sak menjadi 15 sak, sedangkan di Desa Kumalasa hasil panen juga mengalami penurunan cukup besar.
Selain kehilangan hasil panen, masyarakat harus mengeluarkan biaya tambahan untuk melindungi lahan pertanian. Banyak petani memasang pagar seng dengan biaya mencapai Rp4–5 juta agar babi tidak lagi memasuki lahan mereka. Kondisi tersebut menunjukkan bahwa konflik telah memberikan beban ekonomi yang nyata bagi masyarakat.
B. Apakah Agama Menjadi Penyebab Utama?
Pertanyaan menarik yang muncul sebelum penelitian dilakukan adalah apakah masyarakat Bawean membenci Babi Kutil hanya karena dalam ajaran Islam babi merupakan hewan yang haram, atau karena mereka benar-benar mengalami dampak dari keberadaan satwa tersebut.
Untuk menjawab pertanyaan tersebut, penelitian menguji dua variabel utama, yaitu Tingkah Laku Babi dan Faktor Agama, terhadap Sikap Masyarakat menggunakan analisis regresi linear berganda.
C. Tingkah Laku Babi Menjadi Faktor Paling Dominan
Hasil analisis menunjukkan bahwa Tingkah Laku Babi berpengaruh signifikan terhadap Sikap Masyarakat dengan nilai t hitung sebesar 4,097, lebih besar dibandingkan t tabel 1,980. Hasil ini menunjukkan bahwa hipotesis pertama diterima. Artinya, semakin sering masyarakat mengalami kerusakan tanaman, gangguan aktivitas, maupun ancaman keselamatan akibat keberadaan Babi Kutil Bawean, maka semakin kuat pula kecenderungan masyarakat membentuk sikap negatif terhadap satwa tersebut.
Temuan ini memperlihatkan bahwa pengalaman langsung memiliki peran yang sangat besar dalam membentuk persepsi masyarakat. Kerusakan tanaman, biaya perlindungan lahan, hingga rasa tidak aman menjadi pengalaman nyata yang jauh lebih berpengaruh dibandingkan informasi yang hanya diperoleh dari luar.
D. Faktor Agama Juga Berpengaruh, Namun Bukan yang Terbesar
Penelitian juga menemukan bahwa Faktor Agama berpengaruh signifikan terhadap Sikap Masyarakat. Hal tersebut ditunjukkan oleh nilai t hitung sebesar 2,302, yang juga lebih besar dibandingkan t tabel 1,980. Dengan demikian hipotesis kedua juga diterima.
Sebagai masyarakat yang mayoritas beragama Islam, nilai-nilai keagamaan tetap menjadi salah satu dasar dalam membentuk cara pandang terhadap babi. Namun hasil penelitian menunjukkan bahwa pengaruh tersebut masih berada di bawah pengaruh pengalaman konflik yang dirasakan secara langsung oleh masyarakat.
Temuan ini menjadi menarik karena menunjukkan bahwa masyarakat Bawean tidak semata-mata membentuk sikap terhadap Babi Kutil berdasarkan ajaran agama, tetapi lebih banyak dipengaruhi oleh pengalaman sehari-hari yang mereka alami.
E. Kedua Faktor Berpengaruh Secara Bersama-sama
Ketika kedua variabel dianalisis secara simultan, hasil penelitian menunjukkan bahwa Tingkah Laku Babi dan Faktor Agama secara bersama-sama berpengaruh signifikan terhadap Sikap Masyarakat. Hal ini ditunjukkan oleh nilai F hitung sebesar 21,233, lebih besar dibandingkan F tabel sebesar 3,07, sehingga hipotesis ketiga diterima.
Sementara itu, nilai koefisien determinasi (R²) sebesar 0,265 menunjukkan bahwa kedua variabel tersebut mampu menjelaskan 26,5% variasi sikap masyarakat terhadap Babi Kutil Bawean. Adapun 73,5% sisanya dipengaruhi oleh faktor-faktor lain di luar penelitian, seperti tingkat pendidikan, pengalaman berinteraksi dengan satwa liar, pengetahuan mengenai konservasi, kondisi sosial ekonomi, maupun faktor lingkungan lainnya.
F. Apa Maknanya bagi Konservasi?
Salah satu temuan paling menarik dari penelitian ini adalah bahwa sebagian besar masyarakat sebenarnya tidak menginginkan Babi Kutil Bawean punah. Mereka hanya berharap satwa tersebut tidak lagi memasuki lahan pertanian dan permukiman sehingga tidak menimbulkan kerugian.
Temuan tersebut memberikan pesan penting bahwa konservasi tidak cukup dilakukan melalui perlindungan satwa saja. Upaya konservasi juga harus mampu mengurangi sumber konflik yang dirasakan masyarakat. Pengelolaan habitat, pengelolaan sampah di sekitar kawasan hutan, perlindungan lahan pertanian, serta pelibatan masyarakat dalam program konservasi menjadi langkah yang perlu dilakukan secara bersamaan.
G. Menjaga Satwa Endemik, Menjaga Kehidupan Masyarakat
Babi Kutil Bawean merupakan satwa yang hanya hidup di Pulau Bawean. Kehilangannya berarti hilangnya salah satu kekayaan hayati dunia. Namun di sisi lain, masyarakat juga memiliki hak untuk merasa aman dan mempertahankan sumber penghidupan mereka.
Penelitian ini menunjukkan bahwa keberhasilan konservasi tidak hanya ditentukan oleh kemampuan melindungi satwa, tetapi juga oleh kemampuan memahami kebutuhan masyarakat yang hidup berdampingan dengan satwa tersebut. Ketika konservasi mampu berjalan seiring dengan perlindungan terhadap kehidupan masyarakat, maka peluang menjaga keberlangsungan Babi Kutil Bawean sebagai satwa endemik akan semakin besar.
Sumber Pustaka:
-
Hasil Penelitian Tim Riset Bawean Tourism (2026) dengan Judul “Pengaruh Tingkah Laku Babi Kutil Bawean Dan Faktor Agama Terhadap Sikap Masyarakat Terdampak Pulau Bawean
