KELANGKAAN DAN UPAYA KONSERVASI BABI KUTIL BAWEAN
29 April 2026
Penulis:
M. Reiziq Najibuddin
Nuzulur Rahman
Foto: Act for Wildlife/Chester Zoo
Indonesia merupakan negara kepulauan yang memiliki kekayaan sumber daya alam sangat melimpah. Oleh karena itu, tidak mengherankan jika terdapat berbagai spesies hewan unik yang tersebar di wilayahnya.
Salah satu hewan endemik langka yang masih jarang diketahui keberadaannya adalah babi kutil Bawean (Sus verrucosus blouchi). Spesies ini tergolong langka karena penyebarannya sangat terbatas, yakni hanya dapat ditemukan di Pulau Bawean, Jawa Timur.
Berdasarkan informasi dari BBKSDA Jawa Timur, babi kutil Bawean pada awalnya diklasifikasikan sebagai bagian dari babi hutan Jawa. Namun, sejak tahun 2011, spesies ini ditetapkan sebagai jenis tersendiri karena adanya perbedaan karakteristik yang signifikan. Hal tersebut menjadikannya sejajar dengan spesies babi langka lainnya, seperti babi kutil Visayan dan pygmy hog.
Babi kutil Bawean juga masuk dalam daftar IUCN Red List sebagai spesies langka berdasarkan studi intensif yang dirilis sekitar tahun 2016. Hasil penelitian menunjukkan bahwa populasi babi kutil Bawean sangat terbatas, dengan perkiraan kurang dari 250 individu dewasa dengan jumlah rata-rata yaitu 230 individu dewasa. Namun, penelitian terbaru pada tahun 2024 menunjukkan adanya peningkatan populasi hingga sekitar 700 individu dewasa. Meskipun demikian, jumlah tersebut tetap menjadikannya sebagai salah satu babi hutan paling langka di dunia.
Secara morfologis, babi kutil Bawean memiliki ciri khas berupa tiga pasang kutil atau tonjolan daging di bagian wajah, khususnya pada jantan dewasa. Selain itu, hewan ini memiliki surai rambut yang tumbuh di sepanjang tulang belakang hingga ekor. Tubuhnya cenderung ramping dengan kepala yang relatif besar, serta warna bulu gelap yang terkadang disertai rambut pucat di area pipi.
Babi kutil Bawean memang memiliki nilai ekologis yang tinggi sebagai satwa endemik yang langka dan dilestarikan, namun keberadaannya juga dapat menimbulkan tantangan besar bagi masyarakat Pulau Bawean. Tidak jarang hewan ini masuk ke area perkebunan, merusak tanaman, bahkan terkadang menyerang warga sehingga dapat menimbulkan korban.
Kondisi tersebut menimbulkan dilema dalam upaya konservasi. Di satu sisi, masyarakat perlu melindungi lahan pertanian mereka dari gangguan babi kutil yang kerap merusak tanaman, bahkan dalam beberapa kasus dapat membahayakan keselamatan warga. Di sisi lain, babi kutil Bawean merupakan satwa endemik langka yang harus dilestarikan agar tidak punah.
Konflik antara manusia dan satwa liar ini menunjukkan kompleksitas hubungan keduanya. Oleh karena itu, diperlukan pendekatan yang seimbang antara upaya konservasi dan perlindungan terhadap masyarakat.
Salah satu solusi yang direncanakan berdasarkan hasil wawancara dengan anggota RKW 09 adalah pembuatan kandang jebak yang akan direalisasikan dalam waktu dekat melalui kerja sama dengan Jatim Park. Kandang tersebut rencananya akan dipasang di sekitar lahan masyarakat sebagai langkah mitigasi konflik.
Namun demikian, upaya penanganan ini tidak dapat dilakukan secara instan. Diperlukan riset yang mendalam dan berkelanjutan, mencakup pemahaman terhadap kondisi sosial budaya masyarakat, perilaku babi kutil, serta karakteristik habitatnya. Hal ini penting agar solusi yang dihasilkan benar-benar efektif dan tidak merugikan salah satu pihak, baik dalam aspek pelestarian satwa maupun perlindungan lahan masyarakat.
Sumber:
-
Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam Jawa Timur. (2017). Konservasi babi kutil Bawean. https://bbksdajatim.org/konservasi-babi-kutil-bawean/
-
Rademaker, M. 2016. Sus verrucosus ssp. blouchi. The IUCN Red List of Threatened Species 2016: e.T84697083A88214700. http://dx.doi.org/10.2305/IUCN.UK.2016- 1.RLTS.T84697083A88214700.en
-
Anggota RKW 09 BBKSDA Jawa Timur. (2026). Wawancara pribadi.
