KKN BAHARI UPNVJT ANGKAT GULA AREN BAWEAN, WARISAN MANIS YANG TERJAGA DI BALIBAK HILIR
14 Agustus 2026
KKN BAHARI UPNVJT ANGKAT GULA AREN BAWEAN, WARISAN MANIS YANG TERJAGA DI BALIBAK HILIR
(Tradisi Pengolahan Gula Aren Terus Bertahan dengan Dukungan KTH Sorren dalam Pembinaan dan Pemasaran)
Bawean Tourism - Produksi gula aren murni tradisional di Dusun Balibak Hilir, Desa Balikterus, Kec. Sangkapura, Pulau Bawean, terus dipertahankan secara turun-temurun oleh warga setempat. Kunjungan lapangan dilakukan oleh Tim Kuliah Kerja Nyata (KKN) Bahari Bawean Universitas Pembangunan Nasional “Veteran” Jawa Timur (UPNVJT) didampingi oleh tim Bawean Tourism untuk menggali informasi sekaligus mempromosikan potensi lokal tersebut melalui pembuatan video singkat.
Berdasarkan informasi yang dihimpun Tim KKN Bahari Bawean UPNVJT bersama tim Bawean Tourism dari para perajin gula aren, proses pembuatan diawali dengan pengambilan nira segar (la’ang) dari pohon aren sebanyak dua kali sehari, yakni pada pukul 06.00 WIB dan 15.00 WIB. Nira segar yang ditampung dalam wadah bambu tradisional (bhung-bhung) wajib langsung dituangkan ke kuali besar untuk dimasak. Guna mencegah proses fermentasi yang mengubah rasa nira menjadi asam, bhung-bhung kemudian diasapkan dengan bara hidup sebelum digunakan kembali.
Dalam proses pengolahannya, cairan nira dimasak secara murni tanpa tambahan bahan yang lain. Pemasakan dilakukan di kuali besar berkapasitas 25 liter selama 5 hingga 6 jam dengan nyala api yang dijaga konstan hingga cairan nira mengental dan berubah warna menjadi cokelat pekat. “Proses memasak nira biasanya dimasak dari jam 7 pagi sampai jam 12 siang, lalu langsung dicetak dan didinginkan di suhu ruang,” ujar Maliyah, perajin gula aren asal Balibak Hilir.
Setelah matang, proses penuangan ke dalam cetakan bambu dilakukan secara cepat dalam kurun waktu kurang dari 5 menit. Setelah mengeras dan dingin, gula aren dibungkus menggunakan pelepah daun pisang kering (kalaras) yang diikat rapi dengan tali alami dari tumbuhan attah dan/atau bambu (ghutos). Setiap bungkus gula aren tradisional berisi 5 hingga 10 biji gula. Berdasarkan uji coba daya simpan, gula balok (kerekan) mampu bertahan selama 4 hingga 5 bulan, sedangkan gula bubuk mampu bertahan selama 8 hingga 12 bulan.
Keberlanjutan tradisi pembuatan gula aren di Balibak Hilir mendapat dukungan melalui peran dari KTH Mustika Aren. Kelompok yang berdiri resmi secara hukum pada tahun 2022 ini berperan sebagai wadah penyerapan hasil produksi, pembinaan kualitas, serta perantara pemasaran bagi para perajin gula aren dengan mengusung merek dagang “Sorren”.
Wakil ketua KTH Mustika Aren, Hidayatullah, menjelaskan bahwa penamaan Sorren diambil dari nama kawasan yang memiliki populasi pohon aren terbanyak di Balibak Hilir. Sementara itu, nama Mustika Aren dipilih karena menggambarkan keautentikan (mustika) komoditas lokal Bawean, mengingat hampir seluruh elemen dari pohon aren dapat dimanfaatkan oleh masyarakat setempat.
Menurutnya, keberadaan KTH Mustika Aren tidak hanya menjadi wadah bagi para perajin gula, tetapi juga berperan dalam membantu pemasaran dan peningkatan kualitas produk. “Sistem yang kami terapkan mengadopsi model koperasi. Para perajin gula menyetor hasil produksinya ke KTH untuk dipilah kualitasnya, kemudian KTH yang membantu proses pemasaran ke luar area desa,” ujar Hidayatullah.
Proses penerimaan gula aren oleh KTH Mustika Aren dilakukan sebelum tahap pembungkusan akhir untuk memastikan seleksi mutu produk. Selain menampung hasil olahan warga, KTH Mustika Aren memberikan edukasi teknis kepada para perajin agar mutu gula aren yang dihasilkan konsisten. KTH Mustika Aren juga menyediakan variasi cetakan balok bambu ukuran 8 on serta cetakan khusus untuk olahan gula jahe.
Salah satu perajin gula aren lainnya, Watiyah, menjelaskan bahwa dalam mempertahankan bentuk dan kualitas hasil cetakan, para perajin tetap memilih bambu sebagai media cetak utama setelah sempat melakukan uji coba dengan bahan lain. “Kemarin sempat dicoba diganti menggunakan cetakan dari kayu, tetapi hasilnya kurang bagus. Jadinya para perajin di sini tetap menggunakan cetakan dari bambu,” ungkap Watiyah.
Upaya perajin dalam mempertahankan teknik alami tersebut selaras dengan pembinaan yang dilakukan KTH Mustika Aren untuk menjaga identitas mutu gula aren Sorren. Berbagai informasi serta dinamika proses produksi tradisional inilah yang didokumentasikan oleh Tim KKN Bahari Bawean UPNVJT bersama Bawean Tourism di lapangan.
Melalui hasil dokumentasi dan pembuatan video singkat promosi tersebut, keautentikan gula aren Sorren karya warga Balibak Hilir diharapkan dapat terpublikasi secara lebih luas. Kolaborasi antara keahlian tradisional warga, penguatan manajemen KTH, dan dukungan promosi digital ini menjadi langkah nyata dalam menjaga kelestarian warisan lokal sekaligus meningkatkan kesejahteraan ekonomi masyarakat Bawean. (kza)
Penulis: Keysha Azallea (Humas KKN Bahari UPNVJT)
Editor: Nuzulur Rahman (Tim Redaksi Bawean Tourism)
