PT PLN NUSANTARA UP GRESIK BERSAMA POKMASWAS HIJAU DAUN LAKUKAN TRANSPLANTASI TERUMBU KARANG
3 Juli 2026
MERAYAKAN DAN BERDAMPAK: PT PLN NUSANTARA UP GRESIK BERSAMA POKMASWAS HIJAU DAUN LAKUKAN TRANSPLANTASI TERUMBU KARANG DI PULAU NOKO BAWEAN
BAWEAN TOURISM - Hamparan laut berwarna biru jernih menyelimuti Pulau Noko pada Kamis (2/7). Tiga kapal yang membawa rombongan tamu perlahan merapat di pulau berpasir putih yang selama ini dikenal sebagai salah satu ikon wisata Pulau Bawean. Cuaca yang bersahabat seakan menjadi sambutan alam bagi mereka yang datang bukan sekadar menikmati keindahan, melainkan membawa satu tujuan yang lebih besar yaitu merawat kehidupan yang tersimpan di bawah permukaan laut.
Momentum tersebut menjadi bagian dari peringatan Hari Lingkungan Hidup Sedunia yang diselenggarakan PT PLN Nusantara UP Gresik bekerja sama dengan Pokmaswas Hijau Daun. Berbeda dengan perayaan seremonial pada umumnya, kegiatan ini diwujudkan melalui aksi nyata berupa transplantasi terumbu karang di perairan sekitar Pulau Noko, Desa Sidogedungbatu, Kecamatan Sangkapura, Pulau Bawean.
Kegiatan konservasi ini sebenarnya telah dimulai sehari sebelumnya, Rabu (1/7), melalui penanaman 10.000 bibit mangrove di kawasan Hijau Mangrove Daun. Penanaman tersebut semula dipersiapkan untuk memperingati Hari Mangrove Sedunia yang jatuh pada 26 Juli. Namun, karena adanya penyesuaian agenda, rangkaian kegiatan dimajukan dan dipadukan dengan peringatan Hari Lingkungan Hidup Sedunia sehingga menjadi satu rangkaian aksi pelestarian lingkungan yang saling melengkapi.
Kolaborasi antara PT PLN Nusantara UP Gresik dan Pokmaswas Hijau Daun bukanlah kerja sama yang baru dimulai. Selama beberapa tahun terakhir, kedua pihak secara konsisten melaksanakan berbagai program konservasi di Pulau Bawean. Mulai dari transplantasi terumbu karang di Pulau Cena, Desa Teluk Jatidawang, Kecamatan Tambak sejak tahun 2020 hingga 2025, hingga penanaman mangrove di kawasan pesisir Dedawang yang mengalami abrasi.
Ketua Pokmaswas Hijau Daun, Subhan, menjelaskan bahwa pemilihan Pulau Noko sebagai lokasi kegiatan tahun ini memiliki pertimbangan tersendiri. Setelah lima tahun berturut-turut melakukan konservasi di Pulau Cena, kini perhatian diarahkan kepada Pulau Noko yang dikenal luas sebagai wajah pariwisata Pulau Bawean.
"Sebagai ikon wisata Pulau Bawean, dikunjungi setiap saat dan dijual keindahan alamnya, seharusnya kita sebagai pemilik pulau ini tidak hanya menjual dan menikmati keindahan Pulau Noko tetapi juga memberikan manfaat dengan menjaga dan merawat apa yang ada di dalamnya," ujar Subhan saat diwawancarai Bawean Tourism, Kamis (2/7/2026).
Menurutnya, menikmati keindahan alam tanpa diiringi kepedulian untuk menjaganya merupakan sikap yang tidak bijaksana.
"Kesannya kita jahat sekali kalau hanya menjual alamnya kepada dunia tetapi apa yang ada di dalamnya tidak kita rawat," tambahnya.
Transplantasi terumbu karang yang dilakukan pada kegiatan ini bukanlah pekerjaan yang selesai dalam satu hari. Program tersebut akan terus berlanjut melalui kegiatan monitoring secara berkala setiap dua bulan sekali. Pemantauan dilakukan untuk memastikan tingkat keberhasilan transplantasi sekaligus melihat pertumbuhan terumbu karang yang telah dipasang agar mampu berkembang menjadi habitat baru bagi berbagai biota laut.
Semangat menjaga keseimbangan alam juga disampaikan Camat Sangkapura dalam sambutannya. Ia mengajak seluruh elemen masyarakat untuk bersama-sama menjaga ekosistem pesisir, tidak hanya melalui pelestarian terumbu karang, tetapi juga dengan menghentikan kebiasaan mengambil pasir pantai secara berlebihan.
"Harapannya kita bisa terus bersinergi menjaga keseimbangan alam. Selain melakukan transplantasi terumbu karang, mari bersama-sama tidak mengambil pasir pantai. Jagalah agar sepuluh tahun yang akan datang kita masih dapat melihat pulau yang sama seperti hari ini," pesannya.
Ia juga mengingatkan bahwa perubahan bentang alam Pulau Noko telah menjadi kenyataan yang dapat disaksikan secara langsung. Jika dibandingkan sekitar satu dekade lalu, garis pantai Pulau Noko kini telah mengalami penyusutan hingga kurang lebih sepuluh meter. Kondisi tersebut bukan disebabkan oleh pencurian ataupun penjualan pasir, melainkan akibat dinamika alam yang terus berlangsung. Meski demikian, masyarakat tetap diimbau untuk tidak mengambil pasir pantai dalam jumlah besar karena tindakan tersebut dapat mempercepat terjadinya abrasi dan memperburuk kerusakan kawasan pesisir.
Pesan serupa disampaikan Manager PT PLN Nusantara UP Gresik yang menegaskan bahwa rasa syukur atas keindahan alam semestinya diwujudkan melalui tindakan nyata.
"Salah satu cara mensyukuri nikmat yang diberikan atas alam seindah ini adalah dengan merawat dan memelihara pulau ini. Jangan hanya dieksplorasi, tetapi juga ikut menjaganya. Merayakan Hari Lingkungan Hidup bukan sekadar seremonial, melainkan bagaimana kita memaknai momentum ini melalui aksi nyata menjaga lingkungan tempat kita hidup."
Menurutnya, setiap kegiatan konservasi harus meninggalkan manfaat yang dapat dirasakan dalam jangka panjang. Transplantasi terumbu karang menjadi simbol bahwa kepedulian terhadap lingkungan tidak cukup diwujudkan melalui seremoni, melainkan melalui tindakan yang terus dirawat hingga memberikan hasil bagi generasi berikutnya.
Rangkaian kegiatan yang berlangsung dengan tertib dan lancar itu menjadi pengingat bahwa menjaga alam merupakan tanggung jawab bersama. Pulau Noko telah lama menjadi kebanggaan masyarakat Bawean sekaligus destinasi yang memikat wisatawan dari berbagai daerah. Keindahan pasir putih, laut yang jernih, dan kehidupan bawah lautnya merupakan kekayaan yang tidak tergantikan.
Melalui kolaborasi antara PT PLN Nusantara UP Gresik, Pokmaswas Hijau Daun, pemerintah daerah, dan masyarakat, Hari Lingkungan Hidup tahun ini meninggalkan makna yang lebih dalam. Perayaan tidak berhenti pada seremoni, tetapi diwujudkan dalam aksi yang memberi kehidupan baru bagi ekosistem laut. Sebab pada akhirnya, menjaga Pulau Noko bukan hanya tentang merawat destinasi wisata, melainkan memastikan bahwa keindahan yang dinikmati hari ini tetap dapat diwariskan kepada generasi yang akan datang.
Bawean, 02 Juli 2026 – Tim Redaksi Bawean Tourism
