TIKAR PANDAN BAWEAN: WARISAN YANG TERJAGA DALAM ANYAMAN
11 Juli 2026
TIKAR PANDAN BAWEAN: WARISAN YANG TERJAGA DALAM ANYAMAN
Tim Bawean Tourism:
M. Reiziq Najibuddin
Nuzulur Rahman
Pulau Bawean bukan hanya dikenal sebagai surga wisata dengan panorama laut biru dan hamparan hutan tropis yang memikat. Di balik keindahan alamnya, pulau ini juga menyimpan warisan budaya dan kearifan lokal yang terus hidup di tengah masyarakat. Salah satu warisan tersebut adalah kerajinan anyaman daun pandan, khususnya tikar pandan, yang hingga kini tetap lestari sebagai bagian dari identitas budaya masyarakat Bawean.
Bahan utama pembuatan tikar Bawean berasal dari pandan berduri atau pandan samak (Pandanus tectorius), yaitu tumbuhan pesisir yang memiliki daun panjang, tebal, serta berduri di sepanjang tepinya. Daun pandan ini dikenal kuat dan tidak mudah putus, sehingga sangat cocok dijadikan bahan dasar anyaman. Selain itu, pandan memiliki serat alami yang lentur dan mudah dibentuk sesuai kebutuhan kerajinan. Dikutip dari Aprilla et al., (2021), hal ini karena pandan memiliki serat alam yang mudah dibentuk sesuai kreasi kerajinan yang diinginkan, serta bahan bakunya relatif murah dan ramah lingkungan.
Lebih lanjut, pandan berduri (Pandanus tectorius) merupakan salah satu tumbuhan yang banyak dimanfaatkan sebagai bahan baku anyaman karena memiliki serat yang panjang dan kuat. Berdasarkan hasil studi, untuk menghasilkan produk anyaman yang baik, diperlukan pengetahuan dan keterampilan dalam mengenali jenis tumbuhan yang memiliki karakteristik serat tersebut, dan pandan duri menjadi salah satu yang memenuhi kriteria tersebut (Piry & Rewa, 2024).
Dalam praktiknya, proses pembuatan tikar pandan di Bawean tidaklah sederhana. Bagi para pengrajin, kualitas tikar ditentukan sejak memilih daun pandan. Sumiati, atau yang akrab disapa Mak Sum, menuturkan bahwa hanya daun yang sudah tua, berwarna hijau tua, serta memiliki tekstur tebal dan kuat yang dipilih untuk dianyam. Setelah dipanen, daun terlebih dahulu dibuang tulang tengahnya atau dalam bahasa Bawean disebut etolange, kemudian direbus sekitar satu jam, direndam semalaman, dijemur, diberi warna, lalu dijemur kembali hingga siap dianyam. Dari satu helai daun, biasanya diperoleh sekitar tujuh irisan yang kemudian menjadi bahan dasar anyaman tikar.
Kerajinan anyaman tikar ini merupakan warisan leluhur yang telah diwariskan secara turun-temurun. Dahulu, tikar pandan digunakan sebagai perlengkapan rumah tangga sehari-hari, seperti alas duduk atau tidur. Namun seiring perkembangan zaman, kerajinan ini tidak lagi terbatas pada tikar saja. Para pengrajin di Bawean telah melakukan berbagai inovasi dengan mengembangkan produk-produk baru seperti tas, dompet, topi koboi, kopiah, sabuk, dan berbagai aksesoris lainnya.
Inovasi tersebut tidak muncul begitu saja, melainkan melalui proses pembinaan dan pelatihan. Lebih dari satu dekade lalu, para pengrajin di Bawean pernah memperoleh pelatihan yang diselenggarakan di Kecamatan Sangkapura. Pelatihan tersebut membuka ruang lahirnya berbagai inovasi produk anyaman sehingga tidak lagi terbatas pada tikar, tetapi berkembang menjadi tas, dompet, kopiah, topi, sabuk, dan berbagai produk lainnya yang memiliki nilai ekonomi lebih tinggi.
Namun, keberlangsungan kerajinan pandan di Bawean memiliki cerita yang berbeda di setiap wilayah. Di Desa Gunung Teguh, misalnya, Mak Sum mengungkapkan bahwa tantangan terbesar saat ini bukan lagi bahan baku maupun pemasaran, melainkan regenerasi pengrajin. Semakin sedikit generasi muda yang berminat mempelajari keterampilan menganyam sehingga ketika permintaan meningkat, jumlah pengrajin yang tersedia belum mampu mengimbanginya.
Berbeda dengan kondisi di Desa Gunung Teguh, tradisi menganyam pandan masih terjaga dengan baik di Dusun Batu Lintang, Desa Teluk Jatidawang. Salah satu pengrajin yang masih aktif adalah Mak Samna. Di dusun ini, keterampilan menganyam tidak hanya dipertahankan oleh generasi tua, tetapi juga diwariskan kepada anak dan cucu mereka. Saat berkunjung ke rumah-rumah pengrajin, proses menganyam bahkan masih diajarkan langsung oleh generasi muda kepada anggota keluarga lainnya. Pemandangan tersebut menunjukkan bahwa tradisi menganyam masih menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari masyarakat Batu Lintang
Keberhasilan regenerasi tersebut turut mendukung keberlangsungan produksi tikar pandan di Batu Lintang. Ketersediaan bahan baku pun tidak menjadi persoalan. Hampir setiap keluarga memiliki kebun pandan sendiri yang dipanen satu kali dalam setahun. Pola panen tahunan ini sengaja diterapkan agar daun benar-benar mencapai usia dewasa dengan ukuran yang panjang, tebal, dan kuat. Sekali panen, persediaan daun umumnya mampu memenuhi kebutuhan produksi hingga satu tahun ke depan.
Di sisi lain, kerajinan anyaman pandan tidak hanya ditemukan di Bawean, tetapi juga di berbagai daerah lain di Indonesia seperti Aceh, Lamongan, Cilacap, Kalimantan Barat, dan Kabupaten Kampar. Namun, setiap daerah memiliki ciri khas masing-masing. Salah satu perbedaan yang mencolok terletak pada ukuran irisan daun pandan. Di Bawean, irisan daun cenderung lebih kecil dan halus, sehingga menghasilkan anyaman yang lebih rapat dan detail dibandingkan daerah lain yang umumnya menggunakan irisan lebih lebar. Ciri khas tersebut menjadi identitas anyaman Bawean yang membedakannya dari daerah-daerah penghasil tikar pandan lainnya di Indonesia.
Potensi kerajinan tikar pandan juga sangat erat dengan pengembangan pariwisata Bawean. Kajian Ramli dkk. (2012) menyebutkan bahwa potensi budaya lokal dapat menjadi daya tarik wisata sekaligus meningkatkan perekonomian masyarakat. Dalam konteks tersebut, tikar pandan tidak hanya berfungsi sebagai kerajinan tradisional, tetapi juga berpotensi menjadi cendera mata khas yang merepresentasikan identitas Pulau Bawean.
Dari sisi pemasaran, pengrajin di Dusun Batu Lintang juga memiliki karakteristik tersendiri. Berbeda dengan sebagian pengrajin di Dusun Gunung Teguh yang produknya telah banyak dikenal wisatawan, termasuk wisatawan mancanegara, para pengrajin di Batu Lintang masih mengandalkan jaringan pengepul dan penjualan di pasar tradisional. Meskipun begitu, hal tersebut tidak menjadi hambatan bagi keberlangsungan usaha mereka. Menariknya, dengan harga yang dapat mencapai Rp300.000 hingga Rp400.000 per lembar dan harus bersaing dengan berbagai produk sejenis dari daerah lain maupun tikar buatan pabrik, tikar pandan Batu Lintang tetap memiliki pangsa pasar yang kuat. Menurut para pengrajin, setiap kali mereka membawa hasil anyaman ke pasar, seluruh tikar yang dipasarkan hampir selalu habis terjual. Fakta ini menunjukkan bahwa kualitas anyaman pandan Bawean masih memiliki daya saing serta mendapat kepercayaan tinggi dari konsumen.
Tidak hanya diminati oleh masyarakat Bawean maupun wisatawan, tikar pandan Bawean juga telah menjangkau pasar di berbagai daerah di Pulau Jawa, salah satunya Kabupaten Jember. Di daerah tersebut, tikar anyaman pandan dimanfaatkan sebagai pembungkus atau alas dalam proses penanganan dan pengiriman tembakau sebelum memasuki tahap pengolahan di pabrik rokok. Penggunaan tikar pandan ini dipilih karena memiliki serat yang kuat, tahan lama, serta mampu menjaga kualitas tembakau selama proses penyimpanan dan distribusi. Pemanfaatan tersebut menunjukkan bahwa tikar pandan Bawean tidak hanya memiliki nilai budaya, tetapi juga dipercaya karena kualitasnya untuk mendukung aktivitas industri di luar Pulau Bawean.
Meski kualitasnya telah diakui dan pemasarannya mampu menjangkau berbagai daerah di luar Pulau Bawean, kerajinan anyaman pandan hingga kini masih belum banyak dikenal sebagai bagian dari daya tarik wisata pulau ini. Sebagian besar penjualan masih bergantung pada pengepul dan pasar tradisional, sehingga nilai tambah yang diperoleh para pengrajin belum maksimal. Padahal, apabila dikembangkan melalui promosi wisata budaya, galeri kerajinan, paket wisata edukasi menganyam, hingga pemasaran digital berbasis produk lokal, tikar pandan Bawean berpeluang menjadi suvenir khas yang memiliki nilai ekonomi sekaligus memperkaya pengalaman wisatawan. Pengunjung tidak hanya membawa pulang sebuah kerajinan, tetapi juga mengenal kisah, proses, dan filosofi yang teranyam di dalam setiap helai pandan.
Hingga pada akhirnya, tikar pandan Bawean bukan sekadar hasil anyaman daun, melainkan anyaman pengetahuan, kesabaran, dan identitas masyarakat yang diwariskan lintas generasi. Kisah yang berbeda antara Desa Gunung Teguh dan Dusun Batu Lintang memperlihatkan bahwa warisan budaya hanya akan tetap hidup ketika ada tangan-tangan yang bersedia meneruskannya. Jika regenerasi terus diperkuat, inovasi produk terus dikembangkan, dan kerajinan ini diposisikan sebagai bagian dari pengalaman wisata budaya Bawean, maka tikar pandan tidak hanya akan dikenang sebagai peninggalan leluhur, tetapi akan tumbuh menjadi ikon ekonomi kreatif yang membanggakan Pulau Bawean di tingkat nasional bahkan internasional.
Maka dari itu, sudah saatnya pemerintah daerah mengambil peran yang lebih nyata dalam menjaga keberlangsungan kerajinan pandan Bawean. Regenerasi pengrajin perlu didorong, pelatihan dan pendampingan harus terus dilakukan, serta kerajinan pandan harus ditempatkan sebagai bagian dari strategi pengembangan pariwisata dan ekonomi kreatif daerah. Sangat disayangkan, hingga hari ini warisan budaya yang telah terbukti memiliki pasar, bernilai ekonomi tinggi, dan diwariskan lintas generasi masih belum memperoleh perhatian yang sebanding dengan potensinya. Warisan budaya tidak akan bertahan hanya karena dikenang, melainkan karena terus diwariskan dan diberi ruang untuk berkembang. Sebab ketika sebuah warisan budaya hilang, yang lenyap bukan hanya sebuah kerajinan, melainkan jejak sejarah, pengetahuan, dan jati diri sebuah masyarakat.
Sumber:
-
Aprilla, N., Viora, D., & Syafriani, S. (2021). Olahan Daun Pandan Duri (Pandanus Tectorius) Menjadi Tikar Di Kabupaten Kampar. Jmm (Jurnal Masyarakat Mandiri), 5(5), 2693–2700.
-
Piry, S. S., & Rewa, K. A. (2024). Eksistensi Industri Kerajinan Berbahan Baku Pandan Duri Di Desa Mbatakapidu Kabupaten Sumba Timur. Governance: Jurnal Ilmiah Kajian Politik Lokal Dan Pembangunan, 10(4).
-
Ramli, M., Muntasib, E. K. S. H., & Kartono, A. P. (2012). Strategi Pengembangan Wisata Di Pulau Bawean Kabupaten Gresik. Media Konservasi, 17(2), 231273.
-
Samna. (2026). Wawancara Pribadi, Pengrajin Tikar Pandan, Dusun Batu Lintang, Desa Teluk Jatidawang, Pulau Bawean
-
Sumiati. (2026). Wawancara Pribadi, Pengrajin Tikar Pandan, Desa Gunung Teguh, Pulau Bawean.
