• HOME
  • WELCOME TO BAWEAN
  • ABOUT US
  • CONTACT US
  • HOTEL
  • CAR RENTAL
  • FERRY SCHEDULES 2025
  • FLIGHT SCHEDULE 2025
  • RESPONSIBLE TOURISM
  • TOUR PACKAGE
  • MAP
  • UNDERWATER BAWEAN
  • MY TRIP MY ADVENTURE
BAWEAN TOURISM-Tourism Information & Tour Package To Bawean Island
  • ENCYCLOPEDIA OF BAWEAN ISLAND
  • HOTEL
  • PAKET TOUR BAWEAN 2026
  • PLACES OF INTEREST
  • SHOPPING & DINNING   
    • Shopping
    • Dining
  • TIPS FOR TOURIST   
    • Saying it in Boyan
    • Some Social Tips
  • ESSENTIAL INFORMATION  
    • Accommodation
    • Transportation
  • MERCHANDISE  
    • Kerajinan Anyaman Pandan
    • Kerajinan Batu Onix
    • T-Shirt
    • Books
  • RELIGIOUS TRIP
  • FERRY SCHEDULES
  • ARTS & CULTURE
  • SNORKEL GEAR RENT
  • HOME
  • WELCOME TO BAWEAN
  • ABOUT US
  • CONTACT US
  • HOTEL
  • CAR RENTAL
  • FERRY SCHEDULES 2025
  • FLIGHT SCHEDULE 2025
  • RESPONSIBLE TOURISM
  • TOUR PACKAGE
  • MAP
  • UNDERWATER BAWEAN
  • MY TRIP MY ADVENTURE
  • Home
  • MERCHANDISE
  • Books
  • Waliyah Zainab, Putri Pewaris Syeikh Siti Jenar: Sejarah Agama dan Peradaban Islam di Pulau Bawean

Information

Categories

  • ENCYCLOPEDIA OF BAWEAN ISLAND
  • HOTEL
  • PAKET TOUR BAWEAN 2026
  • PLACES OF INTEREST
  • SHOPPING & DINNING
    • Shopping
    • Dining
  • TIPS FOR TOURIST
    • Saying it in Boyan
    • Some Social Tips
  • ESSENTIAL INFORMATION
    • Accommodation
    • Transportation
  • MERCHANDISE
    • Kerajinan Anyaman Pandan
    • Kerajinan Batu Onix
    • T-Shirt
    • Books
  • RELIGIOUS TRIP
  • FERRY SCHEDULES
  • ARTS & CULTURE
  • SNORKEL GEAR RENT

Download

  • Bawean Map
  • Menjadi Boyan: Strategi Adaptif Keturunan Bawean di Singapore

Berita

Toko Oleh-Oleh Souvenirs di Pulau Bawean

15 April 2025

Kami menjual kaos, tote bag, gantungan kunci / keychain, magnet kulkas, string bag, topi, sticker, cangkir enamel, thumbler, gelang dan lain-lain. Kami mendesain sendiri semua souvenirs dengan mengangkat tema kearifan lokal, destinasi wisata dan tema lingkungan. ... detail

PACKAGE TRIP MOLE KE BAWEAN - SURABAYA & BAWEAN 6D5N (SINGAPOREAN)

10 Maret 2025

Paket tour ini khusus untuk warga negara Singapore yang akan tour ke Bawean.    ... detail

TOUR PACKAGE BAWEAN 7D6N (SINGAPOREAN)

15 September 2024

Paket tour ini khusus warga negara Singapore yang akan berkunjung ke Bawean. ... detail

PAKET TOUR BAWEAN 4 HARI 3 MALAM VIA KAPAL EXPRESS BAHARI

15 September 2024

Paket tour Bawean 4 hari 3 malam via kapal capat Express Bahari ... detail

PAKET TOUR BAWEAN 3 HARI 2 MALAM VIA KAPAL EXPRESS BAHARI

15 September 2024

Paket tour Bawean 3 hari 2 malam via kapal capat Express Bahari ... detail

PAKET TOUR BAWEAN 2 HARI 1 MALAM VIA KAPAL EXPRESS BAHARI

15 September 2024

Private tour Bawean via kapal cepat Express Bahari ... detail

PAKET TOUR BAWEAN 2 HARI 1 MALAM VIA PESAWAT SUSI AIR

15 September 2024

Private trip Pulau Bawean 2 hari 1 malam via pesawat susi air ... detail

PAKET TOUR BAWEAN 3 HARI 2 MALAM VIA PESAWAT SUSI AIR

15 September 2024

Private trip Bawean 3 hari 2 malam via pesawat susi air. ... detail

PAKET TOUR BAWEAN 4 HARI 3 MALAM (VIA PESAWAT SUSI AIR)

15 September 2024

Private trip Pulau Bawean 4 Hari 3 Malam ... detail

SEWA PERAHU ISLAND HOPPING DAN SNORKELING BAWEAN

15 September 2024

Bagi anda yang ingin eksplorasi pulau-pulau kecil di Bawean, yaitu Pulau Gili, Pulau Noko, Pulau Noko Selayar, Pulau Cena dan Tajhung Ge'eng. Kami menyediakan penyewaan perahu untuk mengantar anda pada destinasi yang anda inginkan.  ... detail

» index berita
  • hotel miranda
  • intan hotel
  • Jadwal Express Bahari Gresik-Bawean
  • natrav
berhasil ditambahkan ke keranjang.
Chat
Wishlist
Share

Waliyah Zainab, Putri Pewaris Syeikh Siti Jenar: Sejarah Agama dan Peradaban Islam di Pulau Bawean

  • Availability: SOLD
  • Deskripsi
Judul Buku       : Waliyah Zainab, Putri Pewaris Syeikh Siti Jenar: Sejarah Agama dan Peradaban Islam di Pulau Bawean
Penulis              : M. Dhiyauddin Qushwandhi
Penerbit            : Yayasan Waliyah Zainab Diponggo, Bawean, Gresik.
Cetakan           : Pertama, Maret 2008
Tebal                : xxxii + 277 halaman
Resensi Oleh    : Abd. Rahman Mawazi*
Harus diakui bahwa penelitian sejarah Jawa tidak selesai pada penelitian Danys Lombard yang terangkum dalam karya magnup opusnya, “Nusa Jawa: Silang Budaya”, yang cukup konprehensif itu. Masih banyak fragmen sejarah [lokal] Jawa yang masih belum tersentuh dan terungkap dalam buku-buku tentang Jawa dan sejarahnya. Sejarah lokal adalah narasi tak terpisahkan dari “sejarah besar”. Bahkan, seringkali sejarawan menjadikan sejarah diri (biografi, otobiografi, dan memoar) dan daerah untuk merangkai sejarah besar.
Buku Waliyah Zainab, Putri Pewaris Syeikh Siti Jenar ini mengisahkan sejarah lokal pulau Bawean, yang menjadi fragmen sejarah Jawa. Bawean, pulau kecil di tengah laut Jawa, tepatnya 80 mil dari Gresik, sebagaimana diungkap dalam buku ini, mengandung muatan sejarah yang selama ini masih menjadi teka teki para peneliti sejarah dan sejarawan.
Dalam buku ini, M. Dhiyauddin Qushwandhi berani menyimpulkan bahwa, misalnya, huruf Honocoroko tercipta di Bawean. Alkisah, seorang murid Aji Soko—petualang dari India—yang bernama Dura ditinggal di Bawean dengan dilengkapi sebilah keris, sebab Aji Soko akan melanjutkan perjalanannya ke Jawa guna menundukkan raja Jawa, Ki Dewatacangkar. Ia berpesan agar keris itu tidak diserahkan kepada siapapun selain pada dirinya. Namun, Aji Soko lupa akan Dura setelah berhasil mengalahkan Ki Dewatacangkar. Ia lantas mengutus seorang murid lainnya, Sembada, untuk mengambil keris dimaksud.
Akan tetapi, Dura enggan menyerahkan keris amanat sang guru. Sedangkan Sembada terus meminta keris tersebut hingga akhirnya berakhir dengan pertumpahan darah. Aji Soko baru menyeadari akan pesannya kepada Dura. Ia pun lantas menyusul ke Bawean dan menemukan dua kuwulanya tewas. Ditulislah sebuah prasasti yang kemudian dikenal dengan Honocoroko, untuk mengenang keduanya. Prasasti itu berbunyi: Honocoroko / Dotosowolo / Podojoyonyo / Monggobothongo yang artinya Ada dua utusan / Sama-sama bertikai / Sama-sama jaya dan kuat / Sama-sama meninggal.(Bab 2)
Memang, jika berbicara sejarah, hal itu adalah bukti-bukti yang tertinggal dan masih ada. Sejarah adalah sebuah peninggalan, bisa berupa tulisan, naskah, atau artefak yang bisa dibuktikan kebenarannya secara ilmiah. Tanpa itu, ia hanya menjadi dongeng atau mitos adanya. Ia hanya cerita fiktif yang tidak bisa dijadikan pijakan bahwa sesuatu dikatakan sebagai kisah sejarah. Hal ini dibuktikan oleh penulis dengan menelusuri bukti-bukti sejarah di lapangan dan telaah literatur yang ketat.
Masih banyak hal lain yang ternyata diungkap dalam buku ini. Misalnya tentang Putri Condrowulan, ibunda Sunan Ampel; Nyi Ageng Maloko, putri Sunan Ampel; dan laksamana Cheng Ho, yang makamnya terletak di Bawean. Semunya masih menjadi teka teki sejarah. Prihal Dempo—bahasa Cina yang berarti nahkoda—Cheng Ho tersebut, menurut penulis, kemungkinan memilih menetap di Bawean karena konstalasi politik Dinasti Ming sedang goncang. Sehingga, ia memimilih menetap di Bawean sampai akhir hanyatnya. Kini, makam Cheng Ho tersebut dikenal dengan Jujuk Tampo (Buyut Tampo).
Dengan demikian, kajian dalam buku ini mengungkap suatu peristiwa masa lalu yang masih menjadi misteri masa kini. Asal mula huruf Honocoroko, makam ibunda Sunan Ampel, Putri Condrowulan; makam Nyi Ageng Maloko, dan makam Cheng Ho beserta istrinya diungkap secara deskriptif, meski belum bisa disebut ‘sejarah kritis’. Dan yang tak kalah penting dari kajian buku ini adalah prihal ajaran Syeikh Siti Jenar, yang mengalami nasib teragis di Jawa, yang kemudian diteruskan oleh Sayyidah Waliyah Zainab di Bawean.
Putri pewaris Syeikh Siti Jenar
Waliyah Zainab adalah generasi keempat penerus ajarah Syeikh Siti Jenar. Sejauh ini belum banyak diungkap siapa gerangan yang menjadi penerus ajarah Syeikh Siti Jenar yang kontroversial itu; “Manunggaling Kawulo Gusti”. Beberapa buku yang telah best seller, seperti karya Munir Mulkhan (2001), Agus Suyoto, dan sebagainya, baru mengungkapkan bagian awalnya saja. Dhiyauddin, yang tak lain masih memiliki darah keturunan dari Siti Jenar, mengupas ajaran tersebut dalam bab khusus.
Sosok Waliyah Zainab ditengarai mempraktikkan ajaran Siti Jenar, sebab ia mendapat didikan langsung dari sang ayah, Sunan Duwur, dan kakeknya Sunan Sendang. Sunan Sendang adalah orang yang mengkodifikasikan ajaran Siti Jenar. Naskah itu tidak berjudul, tetapi memuat apa yang disebut Sastro Cettho Wadiningrat (Ilmu Nyata Rahasia Kehidupan), atau disebut juga Ilmu Kabegjan (Ilmu Mencapai Kebahagian Sejati) yang semakna dengan Hikmah al-Islamiyah, dalam kajian tawawuf.
Kajian tasawuf sendiri memuat akidah-syari’ah, thariqah, haqiqah, dan ma’rifat. Syeikh Siti Jenar mengistilahkan catur wiworo werit (Empat Perjalanan yang Sempit) dalam menegaskan betapa empat jalan; syari’ah, thariqah, haqiqah, dan ma’rifah, bukanlah jalan yang gampang (werit). Untuk itu, manusia mesti menanamkan keempat hal pokok itu secara sempurna. Barulah ia akan mencapai aqidah (keimanan) yang sempurna, sebab keimanan itu tidaklah hanya sekedar “percaya” an sich kepada Allah, melainkan kecintaan (hubb). Bila sempurna, maka sang hamba akan merasa bersatu dengan Tuhannya. Demikianlah juga apa yang dipraktekkan oleh Waliyah Zainab.
Waliyah Zainab, disamping meneruskan ajarah Siti Jenar, juga menjadi pemuka agama di Pulau Bawean. Ia meneruskan benih Islam yang telah dakwah Islam yang telah disemai oleh Putri Condrowulan. Namun, keberadaannya di Bawean tak lepas dari konstalasi politik di Jawa. Artinya, Bawean menjadi pulau tempat pengasingan, yang kelak justru islamisasinya cukup merata, khususnya di masa Umar Mas’ud, adipati utusan kerajaan Sumenep, Madura, yang datang kemudian. Sejauh ini baru Jacob Vredeberg yang mengungkap Islamisasi di Bawean dalam karyanya Bawean dan Islam (1992).
Titik pulau Jawa
Dengan demikian, sejarah Bawean adalah bagian dari narasi sejarah islamisasi tanah Jawa—untuk menyebut sejarah Jawa. Dhiyauddin mengibaratkannya sebagai titi dari huruf nun. Nun dan titiknya, dengan demikian, merupakan logos maknawi Jawa Bawean. Sebab, filosofi titik-nun ini bukanlah sesuatu yang tidak mengandung muatan historis. Pada abad ke-14, di masa kedigdayaan Majapahit di bawah pemerintahan Hayam Wuruk, tanah Bawean “diinjak” oleh seorang pengelana dari Persia (Iran) yang dikenal sengan Syeikh Subakir, sebelum melanjutkan perjalannya ke Jawa.
Demikian juga di masa pelarian negeri Campa. Putri Condrowulan, ibunda Sunan Ampel, yang menjadi bagian dari kafilah pelarian negeri Campa beserta rombongannya masih transit di Bawean. Bahkah, beliau tutup usia di sana sebelum sempat melanjutkan perjalanan ke Jawa. Maka, tidak heran bila kelak Sunan Ampel mengutus putra dan putrinya, Sunan Bonang dan Nyi Ageng Maloko, melakukan dakwah Islam di Bawean. Selain itu, Bawean juga menjadi tempat persinggahan terakhir laksamana muslim dari Cina yang cukup masyhur, Cheng Ho, yang hingga kini masih menjadi tanda tanya sejarawah. Dan masih banyak lagi!
Nah, di sinilah letak pentingnya buku ini bagi pecinta sejarah Nusantara, khusunya Jawa. Hasil kajian buku ini memang cukup fantastik. Namun demikian, tentunya penelitian lebih lanjut harus terus dilakukan guna membuktikan secara pasti dan sekaligus mengukuhkan prihal kisah-kisah yang termuat dalam buku ini. Hal ini bertujuan agar kisah sejarah tidak menjadi sekedar mitologi yang tidak dapat dipertanggung jawabkan secara ilmiyah.
*Abd. Rahman Mawazi
Penulis keturunan Bawean yang kini menetap di Batam

  • ← Produk Sebelum
  • Produk Berikutnya →
Information
  • HOME
  • WELCOME TO BAWEAN
  • ABOUT US
  • CONTACT US
  • HOTEL
  • CAR RENTAL
  • FERRY SCHEDULES 2025
  • FLIGHT SCHEDULE 2025
  • RESPONSIBLE TOURISM
  • TOUR PACKAGE
  • MAP
  • UNDERWATER BAWEAN
  • MY TRIP MY ADVENTURE
  Customer Service
  •  +62811883367
  •  +62811883367
  •  hello@baweantourism.com
  •  @baweantourism
  •  @baweantourism
  •  Bawean Tourism
  •  @BaweanTourism
  Tentang Kami

BAWEAN TOURISM

Jl. HangTuah No.24, Pateken, Kotakusuma,
Sangkapura-Bawean, Gresik - East Java,
Indonesia (view map)

©2010-2024 PT Wonderful Bawean Tourism

Top