• HOME
  • WELCOME TO BAWEAN
  • ABOUT US
  • CONTACT US
  • Bawean 360 Virtual Tour
  • RESPONSIBLE TOURISM
  • TOUR PACKAGE
  • MAP
BAWEAN TOURISM-Tourism Information & Tour Package To Bawean Island
  • ENCYCLOPEDIA OF BAWEAN ISLAND
  • HOTEL
  • PAKET TOUR BAWEAN 2026
  • PLACES OF INTEREST
  • TIPS FOR TOURIST   
    • Saying it in Boyan
    • Some Social Tips
  • ESSENTIAL INFORMATION  
    • Accommodation
    • Transportation
  • MERCHANDISE  
    • Kerajinan Anyaman Pandan
    • Kerajinan Batu Onix
    • T-Shirt
    • Books
  • RELIGIOUS TRIP
  • FERRY SCHEDULES
  • ARTS & CULTURE
  • SNORKEL GEAR RENT
  • HOME
  • WELCOME TO BAWEAN
  • ABOUT US
  • CONTACT US
  • Bawean 360 Virtual Tour
  • RESPONSIBLE TOURISM
  • TOUR PACKAGE
  • MAP
  • Home
  • MERCHANDISE
  • Waliyah Zainab, Putri Pewaris Syeikh Siti Jenar: Sejarah Agama dan Peradaban Islam di Pulau Bawean

Information

Categories

  • ENCYCLOPEDIA OF BAWEAN ISLAND
  • HOTEL
  • PAKET TOUR BAWEAN 2026
  • PLACES OF INTEREST
  • TIPS FOR TOURIST
    • Saying it in Boyan
    • Some Social Tips
  • ESSENTIAL INFORMATION
    • Accommodation
    • Transportation
  • MERCHANDISE
    • Kerajinan Anyaman Pandan
    • Kerajinan Batu Onix
    • T-Shirt
    • Books
  • RELIGIOUS TRIP
  • FERRY SCHEDULES
  • ARTS & CULTURE
  • SNORKEL GEAR RENT

Download

  • Bawean Map
  • Menjadi Boyan: Strategi Adaptif Keturunan Bawean di Singapore

Berita

MOLOD DI PULAU BAWEAN: JEJAK SEJARAH, TRADISI ANGKA’AN BHERKAT, DAN IDENTITAS BUDAYA MASYARAKAT

22 Agustus 2026

Sebentar lagi masyarakat Pulau Bawean akan kembali memasuki salah satu perayaan keagamaan yang paling semarak dalam kehidupan sosial masyarakat, yaitu Maulid Nabi Muhammad SAW atau yang dalam tradisi lokal dikenal sebagai Molod. Setiap tahun, perayaan ini dilaksanakan secara rutin di berbagai masjid, musala, hingga sekolah dengan rangkaian kegiatan yang khas. Bagi masyarakat Bawean, Molod bukan sekadar peringatan hari kelahiran Nabi Muhammad SAW, tetapi telah berkembang menjadi sebuah perayaan keagamaan yang memiliki bentuk, simbol, dan tata pelaksanaan yang menjadi bagian dari identitas budaya masyarakat setempat. ... detail

KKN BAHARI UPNVJT ANGKAT GULA AREN BAWEAN, WARISAN MANIS YANG TERJAGA DI BALIBAK HILIR

14 Agustus 2026

Bawean Tourism - Produksi gula aren murni tradisional di Dusun Balibak Hilir, Desa Balikterus, Kec. Sangkapura, Pulau Bawean, terus dipertahankan secara turun-temurun oleh warga setempat. Kunjungan lapangan dilakukan oleh Tim Kuliah Kerja Nyata (KKN) Bahari Bawean Universitas Pembangunan Nasional “Veteran” Jawa Timur (UPNVJT) didampingi oleh tim Bawean Tourism untuk menggali informasi sekaligus mempromosikan potensi lokal tersebut melalui pembuatan video singkat. ... detail

TIKAR PANDAN BAWEAN: WARISAN YANG TERJAGA DALAM ANYAMAN

11 Juli 2026

Pulau Bawean bukan hanya dikenal sebagai surga wisata dengan panorama laut biru dan hamparan hutan tropis yang memikat. Di balik keindahan alamnya, pulau ini juga menyimpan warisan budaya dan kearifan lokal yang terus hidup di tengah masyarakat. Salah satu warisan tersebut adalah kerajinan anyaman daun pandan, khususnya tikar pandan, yang hingga kini tetap lestari sebagai bagian dari identitas budaya masyarakat Bawean. ... detail

THE BAWEAN WARTY PIG: AN ANALYSIS OF PIG BEHAVIOR AND THE INFLUENCE OF RELIGION ON COMMUNITY ATTITUD

10 Juli 2026

Bawean Tourism – Bawean Island is a home to several animal species found nowhere else in the world. Among them is the Bawean warty pig (Sus verrucosus blouchi), a rare wild pig that represents an important component of Indonesia’s unique biodiversity. Despite its conservation significance, however, the species has increasingly become a source of human-wildlife conflict on the island. ... detail

BABI KUTIL BAWEAN: ANALISIS PERILAKU BABI DAN FAKTOR AGAMA TERHADAP SIKAP MASYARAKAT

6 Juli 2026

Bawean Tourism - Pulau Bawean selama ini dikenal sebagai rumah bagi berbagai satwa endemik yang tidak ditemukan di tempat lain di dunia. Salah satunya adalah Babi Kutil Bawean (Sus verrucosus blouchi), satwa langka yang menjadi bagian penting dari kekayaan hayati Indonesia. Namun, di balik statusnya sebagai satwa endemik, Babi Kutil Bawean juga menjadi salah satu sumber konflik antara manusia dan satwa liar di Pulau Bawean. ... detail

PT PLN NUSANTARA UP GRESIK BERSAMA POKMASWAS HIJAU DAUN LAKUKAN TRANSPLANTASI TERUMBU KARANG

3 Juli 2026

BAWEAN TOURISM - Hamparan laut berwarna biru jernih menyelimuti Pulau Noko pada Kamis (2/7). Tiga kapal yang membawa rombongan tamu perlahan merapat di pulau berpasir putih yang selama ini dikenal sebagai salah satu ikon wisata Pulau Bawean. Cuaca yang bersahabat seakan menjadi sambutan alam bagi mereka yang datang bukan sekadar menikmati keindahan, melainkan membawa satu tujuan yang lebih besar yaitu merawat kehidupan yang tersimpan di bawah permukaan laut. ... detail

TURIS SINGAPURA SAKSIKAN LANGSUNG GEBYAR BUDAYA PENCAK SILAT BAWEAN DI HARI LAHIR PENABER KE-XXV

23 Juni 2026

BAWEAN TOURISM – Rombongan wisatawan asal Singapura tampak antusias ketika puluhan pendekar Pencak Silat Bawean memasuki arena pertunjukan dengan langkah tegap dan busana khas silat. Di bawah naungan langit Pulau Bawean, Pondok Pesantren Penaber menjadi saksi perpaduan indah antara semangat pelestarian budaya dan gairah pariwisata, dalam perayaan Hari Lahir Penaber ke-XXV yang bertajuk Gebyar Budaya Pencak Silat Bawean, Selasa, 23 Juni 2026. ... detail

DI BALIK INDAHNYA PULAU NOKO: TENTANG SAMPAH DAN TANGGUNG JAWAB WISATA

16 Juni 2026

Bawean Tourism - Hamparan pasir putih yang menyatu dengan laut biru jernih, sawah-sawah yang membujur luas di setiap sisinya, dan bukit-bukit hijau yang menjulang tinggi dari dasar bumi Bawean, serta pemandangan alam yang sangat eksotis, menjadikan Pulau Bawean sebagai salah satu surga tersembunyi di Provinsi Jawa Timur, sehingga tidak sedikit wisatawan lokal maupun manca negara berkunjung ke Pulau Bawean setiap tahunnya untuk sekadar menikmati keindahan alamnya. Berdasar dari keindahan destinasi alam, Pulau Bawean kini terus berkembang menjadi salah satu pilihan destinasi favorit wisata bahari. Salah satunya adalah wisata alam Pulau Noko yang akhir-akhir ini menjadi salah satu primadona wisata sekaligus menjadi ikon Pulau Bawean. ... detail

BERSINERGI MENJAGA ALAM PULAU BAWEAN

29 Mei 2026

Bawean Tourism - Pulau Bawean merupakan salah satu pulau kecil di Jawa Timur yang menyimpan kekayaan alam begitu luar biasa. Pulau ini mulanya terbentuk dari sisa-sisa gunung api purba jutaan tahun lalu sehingga memiliki manifestasi geotermal dari sisa aktivitas gunung purba tersebut. Pulau Bawean juga memiliki letak geografi strategis karena berada di antara Pulau Jawa dan Pulau Kalimantan yang menjadikan pulau ini sebagai jalur lalu lintas antar pulau di Indonesia. Dikelilingi laut biru, pasir putih, perbukitan hijau, hingga danau alami di tengah hutan, Bawean perlahan menjadi destinasi wisata yang semakin dikenal banyak orang. Keindahan alamnya menghadirkan pengalaman berbeda bagi wisatawan yang ingin menikmati suasana pulau yang masih alami dan tenang. ... detail

THE BAWEAN WARTY PIG: RARITY AND CONSERVATION EFFORTS

29 April 2026

For years, the Bawean warty pig was classified as part of the Javan wild pig. However, according to the East Java Center for Natural Resources Conservation (BBKSDA Jawa Timur), a reassessment in 2011 recognized it as s distinct taxon due to significant morphological differences. This elevated its status alongside other rare wild pigs such as Visayan warty pig and pygmy hog. ... detail

» index berita
  • hotel miranda
  • intan hotel
  • Jadwal Express Bahari Gresik-Bawean
  • natrav
berhasil ditambahkan ke keranjang.
Chat
Wishlist
Share
Bagikan ke Facebook
Bagikan ke X
Bagikan via WhatsApp
Salin Tautan Artikel

Waliyah Zainab, Putri Pewaris Syeikh Siti Jenar: Sejarah Agama dan Peradaban Islam di Pulau Bawean

  • Availability: SOLD
  • Deskripsi
Judul Buku       : Waliyah Zainab, Putri Pewaris Syeikh Siti Jenar: Sejarah Agama dan Peradaban Islam di Pulau Bawean
Penulis              : M. Dhiyauddin Qushwandhi
Penerbit            : Yayasan Waliyah Zainab Diponggo, Bawean, Gresik.
Cetakan           : Pertama, Maret 2008
Tebal                : xxxii + 277 halaman
Resensi Oleh    : Abd. Rahman Mawazi*
Harus diakui bahwa penelitian sejarah Jawa tidak selesai pada penelitian Danys Lombard yang terangkum dalam karya magnup opusnya, “Nusa Jawa: Silang Budaya”, yang cukup konprehensif itu. Masih banyak fragmen sejarah [lokal] Jawa yang masih belum tersentuh dan terungkap dalam buku-buku tentang Jawa dan sejarahnya. Sejarah lokal adalah narasi tak terpisahkan dari “sejarah besar”. Bahkan, seringkali sejarawan menjadikan sejarah diri (biografi, otobiografi, dan memoar) dan daerah untuk merangkai sejarah besar.
Buku Waliyah Zainab, Putri Pewaris Syeikh Siti Jenar ini mengisahkan sejarah lokal pulau Bawean, yang menjadi fragmen sejarah Jawa. Bawean, pulau kecil di tengah laut Jawa, tepatnya 80 mil dari Gresik, sebagaimana diungkap dalam buku ini, mengandung muatan sejarah yang selama ini masih menjadi teka teki para peneliti sejarah dan sejarawan.
Dalam buku ini, M. Dhiyauddin Qushwandhi berani menyimpulkan bahwa, misalnya, huruf Honocoroko tercipta di Bawean. Alkisah, seorang murid Aji Soko—petualang dari India—yang bernama Dura ditinggal di Bawean dengan dilengkapi sebilah keris, sebab Aji Soko akan melanjutkan perjalanannya ke Jawa guna menundukkan raja Jawa, Ki Dewatacangkar. Ia berpesan agar keris itu tidak diserahkan kepada siapapun selain pada dirinya. Namun, Aji Soko lupa akan Dura setelah berhasil mengalahkan Ki Dewatacangkar. Ia lantas mengutus seorang murid lainnya, Sembada, untuk mengambil keris dimaksud.
Akan tetapi, Dura enggan menyerahkan keris amanat sang guru. Sedangkan Sembada terus meminta keris tersebut hingga akhirnya berakhir dengan pertumpahan darah. Aji Soko baru menyeadari akan pesannya kepada Dura. Ia pun lantas menyusul ke Bawean dan menemukan dua kuwulanya tewas. Ditulislah sebuah prasasti yang kemudian dikenal dengan Honocoroko, untuk mengenang keduanya. Prasasti itu berbunyi: Honocoroko / Dotosowolo / Podojoyonyo / Monggobothongo yang artinya Ada dua utusan / Sama-sama bertikai / Sama-sama jaya dan kuat / Sama-sama meninggal.(Bab 2)
Memang, jika berbicara sejarah, hal itu adalah bukti-bukti yang tertinggal dan masih ada. Sejarah adalah sebuah peninggalan, bisa berupa tulisan, naskah, atau artefak yang bisa dibuktikan kebenarannya secara ilmiah. Tanpa itu, ia hanya menjadi dongeng atau mitos adanya. Ia hanya cerita fiktif yang tidak bisa dijadikan pijakan bahwa sesuatu dikatakan sebagai kisah sejarah. Hal ini dibuktikan oleh penulis dengan menelusuri bukti-bukti sejarah di lapangan dan telaah literatur yang ketat.
Masih banyak hal lain yang ternyata diungkap dalam buku ini. Misalnya tentang Putri Condrowulan, ibunda Sunan Ampel; Nyi Ageng Maloko, putri Sunan Ampel; dan laksamana Cheng Ho, yang makamnya terletak di Bawean. Semunya masih menjadi teka teki sejarah. Prihal Dempo—bahasa Cina yang berarti nahkoda—Cheng Ho tersebut, menurut penulis, kemungkinan memilih menetap di Bawean karena konstalasi politik Dinasti Ming sedang goncang. Sehingga, ia memimilih menetap di Bawean sampai akhir hanyatnya. Kini, makam Cheng Ho tersebut dikenal dengan Jujuk Tampo (Buyut Tampo).
Dengan demikian, kajian dalam buku ini mengungkap suatu peristiwa masa lalu yang masih menjadi misteri masa kini. Asal mula huruf Honocoroko, makam ibunda Sunan Ampel, Putri Condrowulan; makam Nyi Ageng Maloko, dan makam Cheng Ho beserta istrinya diungkap secara deskriptif, meski belum bisa disebut ‘sejarah kritis’. Dan yang tak kalah penting dari kajian buku ini adalah prihal ajaran Syeikh Siti Jenar, yang mengalami nasib teragis di Jawa, yang kemudian diteruskan oleh Sayyidah Waliyah Zainab di Bawean.
Putri pewaris Syeikh Siti Jenar
Waliyah Zainab adalah generasi keempat penerus ajarah Syeikh Siti Jenar. Sejauh ini belum banyak diungkap siapa gerangan yang menjadi penerus ajarah Syeikh Siti Jenar yang kontroversial itu; “Manunggaling Kawulo Gusti”. Beberapa buku yang telah best seller, seperti karya Munir Mulkhan (2001), Agus Suyoto, dan sebagainya, baru mengungkapkan bagian awalnya saja. Dhiyauddin, yang tak lain masih memiliki darah keturunan dari Siti Jenar, mengupas ajaran tersebut dalam bab khusus.
Sosok Waliyah Zainab ditengarai mempraktikkan ajaran Siti Jenar, sebab ia mendapat didikan langsung dari sang ayah, Sunan Duwur, dan kakeknya Sunan Sendang. Sunan Sendang adalah orang yang mengkodifikasikan ajaran Siti Jenar. Naskah itu tidak berjudul, tetapi memuat apa yang disebut Sastro Cettho Wadiningrat (Ilmu Nyata Rahasia Kehidupan), atau disebut juga Ilmu Kabegjan (Ilmu Mencapai Kebahagian Sejati) yang semakna dengan Hikmah al-Islamiyah, dalam kajian tawawuf.
Kajian tasawuf sendiri memuat akidah-syari’ah, thariqah, haqiqah, dan ma’rifat. Syeikh Siti Jenar mengistilahkan catur wiworo werit (Empat Perjalanan yang Sempit) dalam menegaskan betapa empat jalan; syari’ah, thariqah, haqiqah, dan ma’rifah, bukanlah jalan yang gampang (werit). Untuk itu, manusia mesti menanamkan keempat hal pokok itu secara sempurna. Barulah ia akan mencapai aqidah (keimanan) yang sempurna, sebab keimanan itu tidaklah hanya sekedar “percaya” an sich kepada Allah, melainkan kecintaan (hubb). Bila sempurna, maka sang hamba akan merasa bersatu dengan Tuhannya. Demikianlah juga apa yang dipraktekkan oleh Waliyah Zainab.
Waliyah Zainab, disamping meneruskan ajarah Siti Jenar, juga menjadi pemuka agama di Pulau Bawean. Ia meneruskan benih Islam yang telah dakwah Islam yang telah disemai oleh Putri Condrowulan. Namun, keberadaannya di Bawean tak lepas dari konstalasi politik di Jawa. Artinya, Bawean menjadi pulau tempat pengasingan, yang kelak justru islamisasinya cukup merata, khususnya di masa Umar Mas’ud, adipati utusan kerajaan Sumenep, Madura, yang datang kemudian. Sejauh ini baru Jacob Vredeberg yang mengungkap Islamisasi di Bawean dalam karyanya Bawean dan Islam (1992).
Titik pulau Jawa
Dengan demikian, sejarah Bawean adalah bagian dari narasi sejarah islamisasi tanah Jawa—untuk menyebut sejarah Jawa. Dhiyauddin mengibaratkannya sebagai titi dari huruf nun. Nun dan titiknya, dengan demikian, merupakan logos maknawi Jawa Bawean. Sebab, filosofi titik-nun ini bukanlah sesuatu yang tidak mengandung muatan historis. Pada abad ke-14, di masa kedigdayaan Majapahit di bawah pemerintahan Hayam Wuruk, tanah Bawean “diinjak” oleh seorang pengelana dari Persia (Iran) yang dikenal sengan Syeikh Subakir, sebelum melanjutkan perjalannya ke Jawa.
Demikian juga di masa pelarian negeri Campa. Putri Condrowulan, ibunda Sunan Ampel, yang menjadi bagian dari kafilah pelarian negeri Campa beserta rombongannya masih transit di Bawean. Bahkah, beliau tutup usia di sana sebelum sempat melanjutkan perjalanan ke Jawa. Maka, tidak heran bila kelak Sunan Ampel mengutus putra dan putrinya, Sunan Bonang dan Nyi Ageng Maloko, melakukan dakwah Islam di Bawean. Selain itu, Bawean juga menjadi tempat persinggahan terakhir laksamana muslim dari Cina yang cukup masyhur, Cheng Ho, yang hingga kini masih menjadi tanda tanya sejarawah. Dan masih banyak lagi!
Nah, di sinilah letak pentingnya buku ini bagi pecinta sejarah Nusantara, khusunya Jawa. Hasil kajian buku ini memang cukup fantastik. Namun demikian, tentunya penelitian lebih lanjut harus terus dilakukan guna membuktikan secara pasti dan sekaligus mengukuhkan prihal kisah-kisah yang termuat dalam buku ini. Hal ini bertujuan agar kisah sejarah tidak menjadi sekedar mitologi yang tidak dapat dipertanggung jawabkan secara ilmiyah.
*Abd. Rahman Mawazi
Penulis keturunan Bawean yang kini menetap di Batam

  • ← Produk Sebelum
  • Produk Berikutnya →
Information
  • HOME
  • WELCOME TO BAWEAN
  • ABOUT US
  • CONTACT US
  • Bawean 360 Virtual Tour
  • RESPONSIBLE TOURISM
  • TOUR PACKAGE
  • MAP
  Customer Service
  •  +62811883367
  •  +62811883367
  •  hello@baweantourism.com
  •  @baweantourism
  •  @baweantourism
  •  Bawean Tourism
  •  @BaweanTourism
  Tentang Kami

BAWEAN TOURISM

Jl. HangTuah No.24, Pateken, Kotakusuma,
Sangkapura-Bawean, Gresik - East Java,
Indonesia (view map)

©2010-2026 PT Wonderful Bawean Tourism

Top